Cerpen Anak Sekolah



Aku dan Pak Tua
Oleh Siska Irma Diana
Pukul  07.00 WIB
            “Masyaallah ADIIIIITTT!! Matahari udah tinggi masih aja tidur, dasar kebo. Bangun!!!,”
            “Apaan sih kak masih ngantuk tau.”
            “Lihat ini jam berapa.” Kak Resti meletakan jam alarm itu tepat didepan mataku.
            “Alah kak masih pagi,” sembari memejamkan mata.
            Kak Resti mengabaikan tubuhku yang kembali terbaring nyaman dan berlalu begitu cepat meninggalkanku bersama sepenggal kalimat terakhirnya.
            “Terserah deh, yang penting hari ini kakak bisa lihat Mama dan Papa berangkat.”
            Kalimat itu seakan menampar kantukku seketika, tanpa berfikir sedikitpun aku menuju kamar mandi dengan tergesa-gesa. Hari ini keberangkatan Orangtuaku ke Palangkaraya mengunjungi sanak saudara disana. Setahuku pukul 07.30 mereka sudah harus meninggalkan Bandara. Tak jauh memang, namun 20 menit sisa waktuku tak akan cukup untukku bersiap menemui mereka.
            Sial, aku lupa hari ini masih hari sabtu, itu artinya aku masih harus bersekolah. 20 menit tersisa kugunakan untuk menghampiri orangtuaku di Bandara. Dengan napas yang masih terengah kuhampiri kak Resti yang mematung disana.
            “Huuhh akhirnya sampai juga, Kak Mama dan Papa mana?”
            “Tuh,” kak Resti menunjuk ke angkasa.

            Benar-benar sial, Mama dan Papa sudah mengudara. Aku belum sempat bersaliman dengan mereka. Kak Resti pun berlalu menuju kampusnya tanpa memedulikanku. Aku sangat kecewa dengan hari ini. Dan kakakku yang semakin hari semakin cuek padaku.
            07.30. Astaga!! Seharusnya aku sudah sampai di sekolah sekarang. Ku kendarai Mio hitamku secepat mungkin berharap kendaraan ini bisa berpacu lebih cepat.
            “Kamu lagi kamu lagi Dit, Bapak sampai bosan melihatmu datang selalu terakhir,” ucap pak Amir penjaga gerbang sekolahku.
            “Pak Amir bukain dong, Ada ulangan harian aku harus segera masuk kelas.”
            Akhirnya aku sampai di kelas dua belas ipa dua berkat tipuan mautku pada Pak Amir tadi. Ku masuki ruang  kelas dengan santainya, tanpa ku sadari seisi kelas menyambutku dengan wajah sinis nyaris tak berekspresi.
            “Eh Bu Mona,” sapaku dengan ramah.
            “Tak usah berdalih Adit, selalu saja kamu terlambat seperti ini. Ibu sampai lelah menghadapi tingkahmu yang nakal. Tapi sekarang kamu harus dihukum,  berdiri ditengah lapangan sekarang juga.” Pintanya dengan mata terbelalak merona.
            Ibu Mona S,Pd itulah guru killer yang ditakuti kebanyakan siswa disekolah. Tapi tidak denganku. Hukuman ini sering kali aku lalui dan bahkan hampir semua jenis hukuman yang ada di sekolah ini. Tapi hari ini aku melupakan sesuatu.
            Semua siswa menertawaiku tanpa iba.
            “Dit kamu haus kan, ini Aqua untukmu.”
            “Gak usah sok perhatian, saya bisa beli sendiri”, kutepis Aqua itu hingga terjatuh.
            Eva hanya melihatku sembari mengerutkan dahi, pertanda ia tak suka dengan perlakuanku.
            “Sana pergi!!” Usirku.
            Tak ada satu pun Guru yang memantauku. Kumanfaatkan waktu untuk pergi ke Kantin sekolah dan bersenda gurau bersama teman-temanku.
            Aku dikenal sebagai pemain sepak bola yang handal, namun disamping itu orang lebih mengenalku sebagai siswa yang nakal setiap hari keluar masuk ruang BK dengan bermacam-macam ulah. Mereka tidak bisa mewajarkan sikapku itulah kebodohan mereka dimataku.
            “Dit kamu gak bisa lepas sepatu sebelum masuk, jelas-jelas aku lagi nyapu,” Tutur Anisa gadis Pintar yang lumayan jelita.
            “Tinggal disapu aja susah banget sih, gitu aja repot.” Sambil menjatuhkan sampah dihadapan Anisa.
            “Kamu tuh bener-bener cowok yang gak tau sopan santun yah.”
            “Sialan!!, ngomong apa kamu tadi,” kutendang kotak sampah disisi Anisa.
            Seketika ia menangis, Tendanganku terlalu keras mengenai kakinya. Aku pun terkejut tak menyangka dia menangis karena ulahku. Sekarang semua mata memandangku. Seolah menuduhku sebagai dalang dibalik tangisan Anisa. Tidak terkecuali Guru Killer itu.
            “Adit ikut Ibu ke ruangan sekarang juga.” Tuturnya dengan wajah memerah.
            Lagi-lagi sial, Ketidaksengajaanku justru menjadi jembatan masalah bagiku. Ku masuki ruang Bu Mona dengan jantung yang berdegup. Tidak pernah aku merasa segugup ini. Perasaanku menerka suatu hal yang tak bersahabat akan terjadi.
            “Ini surat untuk Orangtuamu, mulai sekarang sampai seminggu mendatang kamu belajar di rumah”
            “MAKSUDNYA BU?!!,” Aku berseru.
            “Kamu tahu maksud Ibu, sekarang ambil tasmu dikelas dan pulang”
            Tanpa basa basi Bu Mona menitahku untuk pulang pertanda hukuman telah dimulai. Lengkaplah sudah kesialanku hari ini.
“Karena wanita lemah itu aku harus seperti ini Siallllllllllllll,” gumamku dalam hati.

            Bagaimana mungkin surat ini ku serahkan pada kak Resti, dia hanya akan mencuap seribu bahasa memakiku. Ah, kunaikkan kecepatan motorku.
Aku berhenti ditaman Kota, diatas kursi taman yang rindang merenungi kesialanku hari ini yang lebih murung dari suasana langit siang hari ini. Tidak lama setelahnya, sosok tua terhenti perlahan lalu duduk disisiku, ia terlihat begitu lelah menitikan keringat yang bersimbah. Sembari mengipas-ngipaskan topi lusuhnya.
“Uhukkkk uhuuukk.”
“Bapak kenapa?, ini Pak diminum.” Ku ulurkan air minum dari ranselku.
“Terimakasih nak” Sembari meneguk minumnya
“Kalau boleh tau bapak ini kerja apa yah, kok tengah hari begini?”
“Apa saja bapak lakukan nak.”
“Hah!!, maksudnya pak”
Pak tua itu menceritakan kisahnya. Dia adalah salah satu penikmat pilu kehidupan. Istri dan anaknya menjadi korban banjir bandang yang melanda kota ini sepuluh tahun silam. Ia hidup sebatang kara, hampir seluruh hidupnya ia gunakan untuk menderma membersihkan sampah yang terlihat oleh matanya. Sebab sampah itulah penyebab banjir melanda dan menelan harta yang paling berharga dalam hidupnya. Dialah Pak Tomo, sosok yang baru saja menyentuh hatiku dengan ceritanya.
“Sampah adalah musuh terbesar dalam hidup bapak, dan selamanya bapak akan menyingkirkan sampah yang menjadi penyebab hancurnya hidup bapak.”
            Matanya mulai beriak, perlahan menumpahkan air mata yang membasahi kedua pipi kempotnya. Aku turut larut dalam kisah pilunya, terlebih ketika kulihat sekarung goni berisi sampah yang dibawanya. Entah mengapa, hatiku terenyuh meratapi kisah Bapak tua ini. Malang nian nasibnya, diusia yang merenta dia habiskan untuk  menyisiri jalan hanya sekedar mengenyahkan sampah. Sedangkan aku?, aku kembali teringat kejadian tadi pagi. Ku lempar sampah semauku dan kutendang kotak sampah hingga berserakan. Sedangkan pak tua ini, dia memungutnya dengan susah payah. Aku sungguh tidak punya hati. Aku menyesali sikapku yang keliru. Sungguh aku keliru. Seperti yang dikatakan Anisa ‘Kamu tuh bener-bener cowok yang gak tau sopan santun yah’ kalimat itu sejenak terlintas dibenakku.
            “Bolehkah saya menbantu Bapak memungut sampah?”
            “Kamu yakin nak, tapi mentari sangat terik. Baiknya tak usah kau seharusnya disekolah sekarang.”
            “Aku hanya ingin menebus kesalahku pak, karena sampah aku pun tidak diizinkan mengikuti pelajaran disekolah dan sepertinya aku telah menyesali semua kesalahanku.”
            “Kalau itu yang terjadi, baiklah kita pungut sampah kota bersama-sama.”
            “Baik Bak.”
            Apa yang sebenarnya ada dikepalaku?, aku seakan tidak mengenali diriku sendiri. Namun satu hal yang ku tahu. Aku telah menyesali perbuatanku karena sosok tua ini. Kulihat gesit tangannya memulung sampah-sampah tanpa sedikitpun perasaan malu. Sungguh luar biasa, semangat si tua yang membara mengiris iri dihatiku.
            Keesokan harinya, aku melakukan hal yang sama. Menemani pak tua dalam misinya. Aku  semakin menikmati kehidupannya. Ia mengajarkanku banyak hal dalam hidup. Bukan hanya memungut sampah namun juga menyapu taman kota yang terabaikan oleh masyarakat, bahkan tidak jarang pak tua menasehatiku tentang pentingnya menjaga alam agar bencana tidak merenggut nyawa sesama manusia. Baragam kisahnya semakin memotivasi aku dalam hidup ini hingga menuntut perubahan sikap menuju lebih baik dan berfikir layaknya pak tua mementingkan kepentingan orang banyak meski harus bermandi keringat.
            “Adit, apa yang kamu lakukan disini,” Mama memanggilku dari dalam mobil ditengah-tengah barisan kendaraan yang mengantri dilampu merah.
            “Mama!!”
            “Ayo cepat masuk mobil,” Titah Mama dengan nada yang sedikit meninggi.
            “Adit pergi dulu yah Pak.” Aku beranjak meninggalkan Pak tua.
            Pak tua mengangguk pertanda mengizinkan kepergianku. Setibanya dirumah Mama dan Papa nampak memelas melihatku yang kotor dan bau terik. Kuceritakan semuanya tentang semingguku yang kuhabiskan bersama Pak tua karena hukuman dari sekolah. Mereka begitu terkejut tak terkecuali kak Resti. Aku memang meninggalkan rumah dengan berseragam sekolah namun bukan sekolah yang kutuju melainkan jalanan ibukota. Kulihat raut sedih dan haru diwajah Mama. Seketika itu pula Mama memelukku dengan begitu erat. Setelah kuceritakan kisah pak tua yang menjadi alasanku untuk membantunya.

            Di Sekolah...
            “Lihat itu, Aku tidak sedang bermimpi kan.”
            “Tapi bagaimana mungkin Adit memungut sampah dini hari seperti ini.”
            “Mungkin dia sedang dihukum”
            “Tapi siapa yang menghukum dia, bukankah Adit barusaja berangkat setelah menjalani hukuman dari Bu Mona?”
            “Entahlah, yang jelas itu bukan kemauannya,” Tutur  Anisa gadis yang kubuat menangis seminggu lalu.
            Mereka tidak percaya dengan perubahan sikapku. Begitupun dengan guru-guru. Aku tahu ini mustahil bagi mereka. Tapi aku telah berikrar untuk merubah sikapku yang keliru. Aku selalu terniang pada Pak tua, tentang nasehat dan perjuangannya memungut sampah seorang diri. Dan aku akan melakukan hal yang sama dimulai dari sekolah dan rumahku.
            “Ibu Mona ma’afin Adit yah, Anisa juga. Adit sadar Adit memang anak nakal. Tapi mulai sekarang Adit akan menjadi anak yang baik. Adit janji tidak akan buat kalian jengkel lagi.”
            “Adit, Ibu benar-benar tidak menyangka kamu bisa berubah seperti ini. Ibu senang sekali,” Bu Mona mengusap kepalaku untuk pertama kalinya.
            “Iya bu, tolong tegur Adit jika Adit nakal lagi.”
            “Pasti Adit.”
            “Iya, aku juga senang kamu sudah tidak nakal lagi Dit,” Timpal Anisa sembari melempar senyum manisnya.
            Sekarang semua telah berubah, sikapku tidak lagi seburuk dulu. Banyak hal positif kulakukan setiap hari. Termasuk membersihkan lingkungan dari sampah dan mengolahnya menjadi kreatifitas yang berguna. Hingga akhirnya aku diangkat sebagai ketua SISPALA (Siswa Pecinta Alam). Serta  aktif mengikuti kegiatan penghijauan ataupun kebersihan lingkungan yang diadakan oleh sekolah dan juga pemerintah setempat. Tak luput dari itu semua, aku bekerja sama dengan Pak tua dan juga anggota SISPALA. Sekarang  lingkunganku semakin terlihat bersih dan rapih. Bermacam piagam penghargaan kudapati. Dan yang paling membuatku bahagia karena Mama dan Papa bangga padaku. Terimakasih Tuhan karena sebuah pengalaman aku mampu mengubah kepribadian.
Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Penyesalan

Puisi Bapak Negeriku

Puisi Jarak Menyekat Jumpa