Cerpen Mengharukan
NESTAPA
Siska Irma Diana
Berangkat pagi dan menyapu halaman
disisi gedung tinggi adalah profesi yang tiga tahun belakangan ini kugeluti.
Aku sadar, menjadi anak yatim piatu tidaklah mudah untuk mengais asa seorang
diri. Diatas tanah republik ini, saksi pilu bencana yang membuat orangtuaku
menyatu dengan ibu pertiwi. Tak tahu persisnya. Aku hanya mendengar cerita dari
mulut tetangga. Tentang sejarah hidupku yang porak-poranda.
Setidaknya seorang penyapu lebih
mulia dari seorang pengemis yang hanya bisa menengadahkan tangannya. Begitulah
kata pak ustad yang menasehatiku di masjid tempatku beribadah. Ya, aku memilih
menjadi seorang penyapu halaman meski usiaku belum genap 10 tahun. Aku
bersikeras untuk tidak mengikuti jejak teman-temanku yang berprofesi sebagai
pengemis ibukota. Meskipun aku tidak bersekolah layaknya anak-anak seusiaku
tapi aku juga punya cita-cita. Berharap disuatu masa aku menjadi mentri
kesejahteraan sosial, terlebih untuk mensejahterakan anak-anak terlantar
seperti diriku.
Berharap pagi ini bos ku tidak galak
dan menakutkan seperti kemarin. Kusapu halaman hijau yang luas, langkah demi
langkah kuberjalan bersama sapu yang lebih tinggi dari tubuhku. Hingga
sepenggal suara menghentikanku laju sapuku.
“Nak sini!!!” sosok wanita
paruh baya membuka lebar kedua tangannya seakan memanggilku untuk memeluknya.
Dengan setengah heran, kusingsingkan
sapu itu dan beranjak mendekatinya. Kurang 15 langkah tubuhku menggapainya.
Tapi, sosok bertubuh mini menyambut pelukan itu dengan gesit.
“Mamaaa”
“Oh tuhan, aku salah mengira ternyata
bukan diriku yang dimaksudnya.”
Sebuah drama dihadapanku memecah
relung sanubari terdalam. Betapa tidak, aku yang belum pernah sekalipun
merasakan dekapan ibuku. Hanya mampu menatap kebahagiaan anak kecil yang
beruntung itu.
Aku malu sakaligus iri. Hingga
mematung seorang diri. Seandainya ibu ada dihadapanku sekarang, akan kudekap ia
dngan sepenuh rinduku. Namun sayang semua tak layak kuidamkan. Hanya menggali
kesesedihanku lebih dalam.
Bersama hembusan angin dan sinar mentari yang
mulai meninggi, ku coba menggambar wajah ibu diotakku. Meski ku tahu itu
percuma. Tapi aku tetaplah seorang anak yang merindukan kehangatan dan kasih
sayang seorang ibu.
“Nak, kanapa melamun sendiri?”
seseorang menepuk lembut pundakku.
Dengan sigap kuhapus air mataku.
“enggak kok bu, saya cuma lelah saja,”
“Kelihatannya kamu lelah, cobalah
minum air ini nak.” Sambil menyodorkan air minum padaku.
Aku tahu aku sedang berhadapan dengan
siapa. Jika bosku tahu dia akan marah padaku sebab berbicara dengan pemilik
gedung tinggi ini.
“Ndak apa-apa bu saya ndak mau
merepotkan lagipula saya sudah biasa seperti ini, saya permisi dulu yah bu.”
Kucoba berpaling dari ibu itu, dan
melangkah menuju kursi kosong dibawah pohon rindang ditepi jalan.
“Betapa lembut dan perhatiannya ibu
itu padaku,”
“Seandainya saja aku masih sempat
melihat wajah ibu, pastilah aku akan tahu bagaimana rupa malaikat yang telah
melahirkan diriku, aku merindukanmu ibu ingin kucium surgaku ditelapak kakimu.
Namun, surga itu lebih dulu meninggalkanku sendiri dibumi ini”
Lamunanku semakin dalam bersama air
mata yang terus menghujan diwajahku. Hingga duduk terlelap dalam senderan pohon
rindang. Angin membelai rambutku yang kusam diterpa terik mentari seolah
merasakan duka hati anak sebatang kara. Aku merasakan kedamaian yang belum
pernah kurasakan, Beginikah rasanya belaian dari seorang ibu. Inginku terlelap
lebih lama dalam belaianmu. Entah siapa yang bermimpi siang ini. Akukah??
END
Komentar
Posting Komentar