Cerpen Kisah Sahabat



BUKAN PILIHAN
Oleh Siska Irma Diana

            Kesekian kali kuhirup secangkir teh hangat dihadapanku. Bersama hidangan kue buatan bunda yang tiada tandingannya.  Udara sejuk dipagi ini menjadi teman setiaku bersama bunga warna-warni disisi kanan dan kiri.
            Tak lama, sosok berawak  tinggi dan kurus menyapaku dari balik pagar. Perlahan mengusik damaiku hingga memudar.
            “Permisi, dengan mbk Mikha?”
            “Iya, ada apa ya pak?” aku bertanya setengah heran.
            “Ini ada surat”
            Aku kembali  terheran, seketika kubaca nama discover itu “AISYAH SAHABATMU.” Sepenggal kalimat ini sempat membuatku bertanya penuh tawa. Tidak pernah sekalipun Aisyah mengirimiku surat seperti ini.
Dear Mikha sahabatku,
Aku tidak tahu kapan kau menerima surat ini dan dengan opini apa kau terka isi surat ini. Sobat, kuharap kau tidak membenciku hari ini maupun hari mendatang  setelah hari ini. Bukan aku tidak ingin bersenda gurau denganmu lagi. Namun, kepindahanku dikarenakan ayah juga ibuku yang menginginkan aku menjadi anak yang sholehah sebagaimana yang mereka dambakan. Aku harus pergi, dan bukan dalam waktu dekat. Kuharap kau mengerti, kelak jika umurku bersambung lagi kan kutemui dirimu ditempat kau membaca surat ini. Tersenyumlah.
Aisyah, kau membuatku menyambut pagi dengan air mata hari ini. Bagaimana mungkin aku bisa lalui hari tanpa dirimu lagi. Bagaimana mungkin tak kulihat senyummu hari ini. Rantaian pertanyaan yang terkuak hanya terbuang percuma. Dirimu terlanjur enyah dari pandangku.
Nyaris setiap hari aku merajut kata demi kata menjadi kalimat. Sampai kalimat itu ku anyam menjadi susunan paragraf  yang mengisi ruang suratku untukmu. Tak bisa kuhitung jumlahnya. Tak tahu jua kemana alamatnya. Kau pergi tanpa melampirkan tujuanmu disurat itu. Hingga hanya bisa ku koleksi sebagai saksi rinduku selama ini.

Haruskah aku tua dalam penantian, tentang kau yang tak kunjung datang. Ku nanti setiap hari namun hanya letih kudapati.
“Mikha, sampai kapan kau menulis surat yang tak beralamat ini?” bunda bertanya sembari merapihkan tumpukan surat itu.
“Samapai kalender mama berganti, atau mungkin sampai papa membeli kendaraan baru lagi.”
“Kau tak harus menulis surat selama itu,” sosok suara lain terjaring ditelingaku.
Jemariku berhenti menggenggam pena.  Seketika kepalaku berbalik menatap pemilik suara itu.
“AISYAH.”
“Aku datang menepati janji bukan?” ia melempar senyum padaku
Sosok wajah yang sekian lama tak kupandang bersama segores senyum bercirikhas. Iya, dialah Aisyah sahabatku. Kupeluk ia dengan semua rinduku. Sampai bersimbah air mataku.
“Tapi Aisyah mengapa kau menjadi berubah 180o seperti ini, hampir saja aku tidak mengenalimu,” aku mulai keheranan perihal kepergian dan perubahan dalam dirinya.
Aisyah menghela nafas panjang, matanya mulai beriak dan mengalirkan air hingga ke pipi.
“Selalu ada jawaban dari setiap pertanyaan, begitupun dengan pertanyaanmu sobat,” Aisyah bertutur sendu.
Rupanya, ayah Aisyah mendendam pada seorang lelaki yang dahulu sempat dekat dengan puterinya. Kelakuan  Sony sepupuku, yang nyaris mencium pipi Aisyah membuat persahabatanku dengannya manjadi runyam. Ayahnya membenci diriku. Perbedaan agama diantara kami yang membuat semua bertambah pelik. Sahabatku harus masuk dalam penjara suci, yang ia sebut PONDOK.
“Aku mengerti sekarang, kau berhijab bukan karena kemauanmu tapi karena kesalahan itu bukan?” tanyaku pada Aisyah.
“Kau salah Mikha, justru inilah wujudku yang sesungguhnya, lupakan Aisyah yang berjeans pendek dan berlaga layaknya wanita tak berakhlak yang penuh sensasi dan modernisasi. Aku adalah diriku yang sekarang. Berhijab dan menutup aurat ini semua karena agamaku dan aku telah mengenalnya lebih dari diriku sendiri. Perlu kau tahu meski kita berbeda agama, aku yakin kamu mengerti ini amanat dari Tuhan dan Orang tuaku.”
“Aku tahu aku tidak salah memilihmu menjadi sahabatku, kau tak pernah memandang sebelah mata perbedaan kita Aisyah,” kudekap erat tubuh Aisyah yang berjubah.
“Aku mohon berhentilah menulis surat, ini nomor teleponku kau bisa menghubunginya semaumu.” Aisyah memberi  isyarat baru dan melepas pelukanku.
“Maksudmu??”
“Kau sudah mengerti bukan, aku sedang mengemban amanat dan harus kutunaikan kewajiban sebagai seorang anak. Biarlah kubahagiakan orangtuaku, biar kau dan aku kembali merindu.”
Persahabatan yang tidak bisa kumengerti, sahabat yang sejenak kembali lalu pergi. Untuk bakti ia kembali dalam penjara suci tuk tunaikan tugas sang illahi. Aku pun kembali menanti.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Penyesalan

Puisi Bapak Negeriku

Puisi Jarak Menyekat Jumpa