Kisah Cinta
JODOH TERINDAH
Pagi mulai menjelajah
disudut bumi. Suara kicau burung memaksaku bangun dari kenyamanan bermalamku.
Seperti biasa, pagi-pagi sekali aku harus bergegas menuju ke pasar membawa
dagangan bersama ibuku. Selama libur kuliah aku mengisi kekosongan waktu untuk pulang
ke desa membantu orangtuaku, lebih tepatnya ibu. Karena semenjak ayah meninggal
2 tahun lalu, ibulah yang bersusah payah menghidupi diriku juga membayar uang
kuliahku anak semata wayang yang menjadi harapan terbesar bagi ibu. Begitulah
kata-kata yang selalu ibu utarakan terhadap diriku.
Sinar mentari mulai
menyilau di ufuk sana. Ku bawa tumpukan pakaian diatas motor dan melaju
berkendara. Hingga tibalah aku di pasar Andalan. Begitulah nama pasar yang
memang menjadi andalan di desaku. Pasar yang lumayan besar untuk desa kecil
seperti desa Kenanga. Setelah kuletakkan barang yang terikat itu aku kembali
untuk menjemput ibu.
Bukkk
“Astagfirullah
haladzim!!”
“Aduuh”
“Ma’af ma’af, saya tidak sengaja saya tidak fokus mengendarai
motorku. Apa kau baik-baik saja?” tanyaku dengan panik.
“T-tidak tidak, aku
tidak apa-apa,” Ucapnya dengan nada gemetar.
“Syukurlah, saya
benar-benar minta ma’af nona”
“Tak apa, lain kali
berhati-hatilah,”
Wajahnya tampak kaget
dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Begitupun denganku. Aku mencoba
membantunya bangkit diantara rerumputan ditepi jalan namun tangannya menghalau
tanganku seakan tak ingin disentuh. Sedangkan aku terus melantunkan ucapaan
ma’af padanya. “Ah, aku memang payah, bisa-bisanya
aku menabrak wanita dipagi buta seperti ini,” Gumamku dalam hati.
***
Di pasar
“Assalamualaikum ibu,
saya ingin membeli baju ini berapa ya harganya?”
“Waalaikumsalam eh nak
Rena, Oh yang ini baju model terbaru nak untuk nak Rena cukup 100.000 saja.
“Adakah warna lainnya
ibu, saya ingin warna biru”
“Oh ada-ada, nak tolong
ambilkan baju seperti ini yang warna biru ya,” Pinta ibu padaku.
“Mana coba Rian lihat
bu?”
“Kamu.”
Aku terkejut melihat
pembeli itu rupanya dia wanita yang
kutabrak tadi, dia terlihat begitu gugup sontak ia menundukkan kepala ketika
aku mengenali wajahnya. Tetapi mengapa dia hanya diam saja. Harusnya dia memaki
aku atau setidaknya dia mengutarakan kekesalannya kepadaku. Tapi ini aneh
sekali aku semakin merasa bersalah dengannya.
“Ini bu bajunya bu” Ku
sodorkan baju biru yang diminta ibu.
“Nah ini bajunya nak,
sangat cocok denganmu”
“Terimakasih bu, ini
uangnya. Rena pergi dulu ya Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam.”
Ia nampak begitu
terburu-buru atau memang sengaja tak ingin berlama-lama karena ada aku?. Belum
sempat aku mengulangi kata ma’af namun ia telah raib dari pandanganku. Dia
membuatku diam seribu bahasa layaknya lelaki bodoh dihadapan ibu.
***
Singkat cerita, aku
telah menamatkan kuliah dengan predikat yang tidak begitu buruk. Tepat dihari
wisudaku aku ingin memperkenalkan kekasihku kepada ibu. Iren Windasari wanita
berwajah oval dengan mata sipit berambut sebahu dan bertubuh ramping yang telah
5 bulan menjalin hubungan denganku. Dengan perasaan sedikit menggebu dan ragu aku
mulai mendekati ibu yang tengah duduk santai di sebuah kursi bersama beberapa
orangtua disana.
“Ibu, Rian ingin
berbicara dengan ibu”
Ibu tersenyum landai
dengan anggukan kecil menandakan ibu mengerti maksudku. Segera ia bangkit lalu
menghampiri diriku.
“Mengapa tidak ikut berfoto
dengan teman-temanmu nak?”
“Tidak bu, nanti saja.
Ada yang ingin Rian bicarakan dengan ibu.”
“Katakanlah, apa itu?”
“S-sebenrnyaaa… Rian
rian ingin mengenalkan seseorang kepada ibu.” Tuturku dengan nada gugup.
“Wah kebetulan sekali
ibu juga ingin mengenalkan seseorang kepadamu nak, tapi mereka belum datang
mungkin masih di perjalanan. Memangnya siapa yang ingin kau kenalkan pada ibu?
dimana dia?” Ibu memberi pertanyaan ganda padaku.
“Rian ingin mengenalkan
kekasih Rian bu, namanya Iren Windasari”
“…??”
Seketika wajah ibu
berubah murung mendengar ucapanku. Aku merasa ada yang tidak beres. Apa yang
membuat ibu menjadi seperti ini. Mungkinkah karna aku yang ingin mengenalkannya
dengan Iren. Bertubi-tubi pertanyaan memenuhi otakku namun aku tak berani
menanyakannya kepada ibu.
“Bu.., ibu baik-baik
saja kan?”
Ibu menghela nafas
panjang lalu menatapku dalam-dalam. “Nak, sejak kau kecil hingga dewasa seperti
ini ibu tak pernah meminta satu hal pun kepadamu. Tetapi untuk saat ini ibu memohon,
tinggalkan kekasihmu karena ibu sudah memilihkan jodoh untukmu.”
“APA BU!!.. Tapi kenapa
ibu baru memberitahu Rian sekarang bu?, Rian tidak mungkin meninggalkan Iren.
Rian sangat mencintainya bu.”
Air mataku menetes
membasuhi kedua pipiku. Permintaan ibu benar-benar menghancurkan hatiku.
Bagaimana mungkin aku dijodohkan dengan wanita lain sedangkan aku telah
memiliki kekasih, tapi disisi lain ibu adalah orangtuaku satu-satunya aku tak
pernah berani mengecewakan hati ibu.
“Rian mohon bu, jangan
lakukan ini kepada Rian. Rian sayang dengan ibu tapi Rian tidak bisa
mengabulkan permintaan ibu.” Kugenggam tangan ibu sebagai tanda pengharapan.
Ibu tak membalas
kata-kataku. Melainkan tertunduk lemas, aku tahu ibu meneteskan air mata namun
berpaling dariku menyembunyikan tangisnya dan berbalik meninggalkan aku yang
tengah berlutut. Apa yang sudah kulakukan. Pertamakalinya aku membuat ibu
menangis karena ulahku. Tidak tidak aku tak seharusnya membuat ibuku menangis.
“Ibuuuuu.” Aku
berteriak menghentikan langkah ibu.
“Rian akan menuruti
kemauan ibu, Rian akan menerima wanita yang ibu jodohkan untuk Rian, jangan
menagis bu Rian mohon.”
Aku berlari mengejar
ibu dan memeluknya seerat mungkin. Ibu menangis deras begitupun aku sehingga
mengundang orang sekitar untuk menyaksikan kami yang tengah larut dalam haru.
Aku memang mencintai Iren tetapi aku lebih mencintai ibuku. Jadi apapun yang
membuatnya bahagia akan aku lakukan sekalipun meninggalkan orang terkasih demi
wanita pilihan ibu.
“Jangan menangis bu,
Rian tidak rela melihat ibu menangis seperti ini.”
“Iya nak, terimakasih
sudah mengabulkan permintaan ibu.” Ibu menatap wajahku dengan penuh kasih sayang.
“Iya bu, Rian akan
berbakti dengan ibu, siapapun yang ibu pilih untuk Rian pasti dia adalah orang
yang baik dan pantas untuk Rian. Rian sangat menyayangi ibu”
Ibu mulai tersenyum
perlahan. Senyuman itu sedikit menenangkan hatiku. Aku belajar tegar dengan
semua ini. Aku tak boleh terlihat bersedih karena ibu akan merasa aku tak
ikhlas melakukannya. Aku seorang laki-laki dan aku harus kuat menerima
kenyataan. Biarlah kulupakan cinta ini. Biar ku lupa semua kenangan indahku
bersama Iren.
***
20 menit kemudian…
“Rian, lihat nak itu
mereka sudah datang.”
Benar
saja rupanya dua orang wanita datang menuju ke arah aku dan ibu. Ibu langsung
menyambut kedatangan mereka dengan pelukan hangat. Rupanya wanita itu adalah
sahabat lama ibu ketika bersekolah dahulu. Kini senyum diwajah ibu tampak
begitu sempurna. Aku merasakan jelas sekarang ibu sangat bahagia.
“Terimakasih
ya kalian sudah datang diaara wisuda Rian”
“Kami
pasti datang karena kami sudah berjanji, Oh jadi ini Rian bu?” Ucap bu Eva sembari
melihatku.
“Iya
ini Rian anakku.”
“Wah selamat ya nak kau
sudah berhasil menamatkan kuliahmu.” Bu Eva mengelus pundakku dengan lembut.
“Iya bu terimakasih.”
“Terakhir
ibu melihatmu kau masih sangat kecil, sedikit lebih besar dari Rena.”
“Rena!!” aku terkejut
mendengar namanya.
“Iya Rena anak ibu, setelah
meninggalkan desa sekian lama sekarang kami kembali untuk menetap disini
Alhamdulillah Rena juga sudah menamatkan pendidikannya di pondok. ayo Rena buka
cadarmu nak”
Betapa terkejutnya aku
setelah wanita itu membuka cadarnya. Dia Rena wanita yang selalu menghindar
dariku karena kesal denganku. Diwajahnya terlukis ekspresi sama sepertiku namun
ia nampak menyembunyikannya dihadapan ibunya dan juga ibuku.
“Oh iya Rian dan Rena
sebenarnya pernah bertemu dipasar sewaktu nak Rena membeli pakaian tapi aku
sengaja tidak memperkenalkan mereka berdua karena menunggu hari yang tepat”
“Maksud ibu?” Aku
semakin bingung dengan keadaan ini. Sedangkan Rena hanya tertunduk seperti
biasanya tak pernah ingin melihat wajahku.
“Begini nak Rian,
sebenarnya kamu dan Rena sudah kami jodohkan sejak kecil”
“APPAAA?” Aku tersentak
bersamaan dengan Rena.
“Jadi dia laki-laki
yang ibu jodohkan untuk Rena bu?” Tanya Rena dengan penuh keraguan.
“Iya nak, kami ingin
kalian berdua menikah,”
Aku semakin
terperangah. Fakta memperparah suasana hatiku. Rupanya wanita ini yang ingin
ibu perkenalkan denganku lebih tepatnya jodohku. Sulit aku percaya.
Ibu dan bu Eva seengaja
meninggalkan kami berdua untuk bisa saling mengenal. Tetapi kami hanya diam
mematung tanpa saling memandang satu sama lain. Betapa kakunya diriku ini. Tapi
aku tidak berani membuka pembicaraan dia terlihat sangat membenci diriku.
“Emm Rena.” Ku
beranikan diri membuka pembicaraan.
“Iya ada apa?” suara
lembutnya mencairkan suasana.
“Ma’afkan aku ya.”
“Ma’af, ma’af untuk apa?”
“Ma’af karena sudah menabrakmu hingga terjatuh”
“Hehehe itu, aku sudah memaafkanmu
tepat setelah kau mengucapkan ma’af yang pertama.” Rena tertawa pelan mendengar
ucapanku.
“Haaaaa benarkah??”
kamu yakin?” tanyaku dengan lugas.
“…” Rena hanya
mengangguk lembut.
Aku semakin tidak
percaya. Rupanya dia tidak menaruh benci padaku. Syukurlah hatiku lega
sekarang. Terlebih dia yang kini tak seperti biasanya ia terlihat lebih manis
dengan senyuman diwajahnya. Rupanya wanita ini begitu menawan. Aku memujinya
dalam hati.
“Rena bolehkan saya
bertanya?”
“Boleh, tanyakan saja.”
“Sebenarnya apa yang
membuatmu tak pernah memandangku lebih dari 5 detik dan seakan tak ingin
bertemu denganku, semenjak peristiwa itu kau terlihat sangat membenci diriku.”
“Ma’afkan aku Rian,
karena sebenarnya bukan karena aku membencimu tetapi ada hal lain yang membuatku
tak ingin melihatmu”
“APA itu?, Katakan Rena.”
pintaku dengan sedikit mendesak.
“Kau ingin
mendengarnya?”
“Iya tentu saja, aku
penasaran dengan jawabanmu.”
“Tapi kau tidak boleh
tertawa.”
“Oh baiklah aku takkan
tertawa.” jawabku meyakinkan.
“S-sebenarnya aku
menjaga pandanganku Rian, karena kata ibu beliau telah menjodohkanku dengan
anak sahabatnya.”
“Hahaha” Aku sungguh
tak mampu menahan tawa. “Ma’af ma’af Rena kata-katamu membuatku tak bisa menahan tawa. Bagaimana mungkin kau
menjaga pandanganmu dari jodohmu sendiri bahkan menjauh dariku, ini terlihat
lucu Rena”
Ia tidak terlihat
menghukumku dari pelanggaran tawa ini. Tetapi apa yang terjadi denganku.
Mengapa aku tertawa lepas seperti ini padahal belum ada satu jam yang lalu aku
menangis deras. Aku sungguh terbawa suasana, atau mungkin Rena yang membuatku
seperti ini. Entahlah, tapi sekarang aku merasa lebih nyaman.
“Sudahlah Rian,
berhenti menertawaiku, Ayo kita cari ibu.” Rena bergegas mendahului langkahku.
“Baiklah ayo.” Ku
langkahkan kaki mencoba menyeimbangkan langkahnya.
Kini aku terlihat lebih
santai kami berjalan berdua layaknya sepasang kekasih. Sejenak aku teringat
dengan Iren. Tapi kemana dia? mengapa sejak pagi aku tidak melihat dirinya.
“Rian.”
Suara itu menghentikan
langkahku dan Rena. Tak asing, dan aku mengenal jelas suara itu.
“Iren”
Dia terlihat gugup
dihadapanku.
“Rian aku minta ma’af,
karena aku ingin mengakhiri hubungan kita.” Tanpa basa basi ia mengungkapkan
maksudnya.
“Ini Aldo kekasih
baruku, aku harap kamu tidak membenciku karena keputusan ini.” Wajahnya tampak
melukis ekspresi bersalah.
Aku hanya terdiam
menyaksikan Iren yang begitu mesra menggenggam tangan kekasih barunya. Hal yang
tak pernah kuizinkan ia lakukan kepadaku. Mungkin karena itu ia meninggalkanku
sebab larangan untuk memperlakukanku dengan mesra hingga ia bosan dengan
caraku.
“Baiklah mulai sekarang
kita tidak ada hubungan lagi,” Aku mencoba menguatkan diri.
“Ayo Rena kita pergi.”
Kini
aku mengerti, betapa indahnya rencana Allah yang mendatangkan jodohku dengan
cara yang tak pernah kufikirkan sebelumnya. Aku mencoba mengikhlaskan Iren
dengan sepenuh hati dan membuka lembaran baru. Karena ibulah aku meninggalkan
wanita yang salah dan karena ibu pula aku mendapatkan wanita yang sholehah.
Wanita yang menjaga pandangannya dari lelaki lain hanya untukku. Lelaki yang
dijodohkan dengannya. Betapa bahagianya diriku memilikinya Rena Anisa.
MENIKAH
***
-Selesai-
Komentar
Posting Komentar