Cerpen Love
MERINDUKAN PELANGI
Siang
ini Rendi kembali menunggu jemputan untuk pulang ke rumah. Anak berumur 13 tahun yang rupawan ini adalah anak semata wayang dari pak Ardi dan
Bu Nia. Bersekolah di tempat yang elit bukanlah tidak mungkin untuk bocah
pecinta game seperti dirinya.
Setelah
lama menanti didepan gerbang sekolah, datanglah pak Amir supir yang menjemput
kepulangan Rendi. Baru beberapa langkah berlalu menuju mobil, sebuah benda
terjatuh dari tasnya. Seseorang berpakaian kumuh memungut benda itu, belum
sempat ia menghampiri pemilik benda na’as ini, namun sayang kendaraan Rendi
lekas melaju dengan cepat.
“Dari
mana aja sih mah kok baru pulang”, keluh Rendi. “Aduh anak mama ini kaya gak
tau aja deh, mama arisan sama temen-temen mama lah sayang”, Balas Bu Nia.
Begitulah kehidupan Rendi tinggal di rumah megah namun terasa begitu hampa ayah
dan mamanya sibuk dengan urusannya masing-masing.
Ke-esokan
harinya. Rendi kembali ke sekolah seperti biasa. “Rendi ada titipan nih untuk
kamu”, Ucap Feri. “Loh kok bisa, dari siapa Fer?”, “ Tuh dari anak yang didepan
gerbang”, Feri menunjuk ketepi jalan didepan sekolah. Rendi yang tidak tahu
nama orang yang telah menemukan botol minuman kesayangannya. Rendi hanya bisa
melempar senyum tanda terimakasih.
Waktu
berputar begitu cepat. Bel pulang sekolah sekolah pun berbunyi. “tumben pak
Amir gak telat jemput Rendi?”, Tanya Rendi dengan ramah. “iya den Rendi, tadi
gak macet di jalan jadi bapak sampe lebih awal”, timpal pak Amir. Sepanjang
perjalanan Rendi mengamati kesimpang siuran ibukota yang kotor dan ramai
manusia.
Tiba
dilampu merah. “Loh itukan orang yang tadi didepan gerbang”, ucap Rendi dalam
hati.”Pak Amir, Rendi kesana dulu yah”, “Loh mau kemana den sebentar lagi lampu
hijau”, Tahan pak Amir. “Iya bapak duluan aja”, teriak Rendi dari kejauhan. Rendi
yang tidak menghiraukan panggilan pak Amir terus berlari menghampiri kerumunan
anak-anak ditepi jalan.
“Hei”,
Rendi menyapa seseorang disana. “Terimakasih yah”, Rendi berkata dengan
lugunya. “Iya sama-sama”, tersipu melukis senyum . “Namaku Rendi Agustian”. Rendi mengulurkan tangannya. “Aku pelangi”. “Wah
nama yang indah”, Rendi memuji sosok teman baru dihadapannya. “mau ikut
denganku?”, ajak pelangi. Tanpa membuang waktu Rendi ikut bersama Pelangi dan
teman-temannya. Bernostalgia dijalanan ibukota. Begitulah profesi gadis cilik
yatim piatu yang kini masuk dalam daftar teman Rendi. Mereka berjualan asongan disetiap
lampu merah dan juga toko-toko diemperan ibukota. Rendi yang terhanyut bersama
teman-temannya tidak menyadari sosok bertubuh ramping didepannya. “RENDI, apa
yang kamu lakukan disini?”. “Mama”. Rendi segera dibawa pulang oleh ibunya.
“Liat
ini pah, Rendi udah belajar jadi anak jalanan”. Ayah Rendi begitu terkejut
ketika melihat sepaket barang asongan yang terkalung dileher Rendi. “Apa-apaan
ini Rendi, kamu mau bikin malu papa”. Ayah Rendi memuncak dan geram terhadap
kelakuan anaknya. Rendi tak kuasa mendengar celotehan pedas itu. “Mama dan papa
Cuma bisa marahin Rendi, Rendi bosen sendiri di rumah Rendi juga butuh kawan”.
Rendi berlari menuju kamarnya. “Rendi, papa belum selesai bicara”, bentak papa
Rendi.
Rendi
memutuskan untuk pergi dari rumah. Semua orang dirasa tidak lagi memperdulikan
dirinya. Bersama ransel hitamnya Randi menyisiri jalan tanpa tujuan. “Rendi,
kamu ngapain disini”. Pelangi menatap Rendi dengan penuh tanya. “aku kabur dari
rumah”. Rendi mulai menceritakan kehidupannya yang hampa tanpa kasih sayang
dari orangtuanya. Hanya bisa memarahi dan mengatur kehidupan Rendi semau mereka
yah itulah yang dirasakan oleh anak semata wayang ini. Mereka hanya mengurusi
pekerjaan sampai aku lupa rasanya diperhatikan oleh papa dan mama. Rendi pun
memutuskan untuk tinggal bersama Pelangi dan teman-temannya. Meski harus
menyandang status sebagai anak jalanan namun Rendi lebih merasakan kebahagiaan
dan kebebasan dalam hidupnya.
Satu
minggu sudah Rendi menghilang tanpa kabar. Orangtua Rendi kini dilanda
frustasi. Anak tunggalnya hilang entah kemana. Polisi dan orang suruhan mereka
pun tidak mampu menemukan Rendi. “Pah, mama khawatir sama Rendi pah di Jakarta
bayak penjahat dan teroris. Gimana kalau Rendi diculik atau dijual pah”, mama
Rendi menangis tak henti-hentinya. “iya ma, papa juga sudah berusaha semaksimal
mungkin. Tapi Rendi masih belum ditemukan”, ujar papa Rendi. “ini semua karena
papa yang membentak Rendi dengan kasar, pasti dia pergi dari rumah karena
ucapan papa tadi malam”. “kok mama malah salahin papa, papa cuma gak mau Rendi
bikin hancur nama dan reputasi papa mah”. Orangtua Rendi kini saling menyalahkan.
“Rendi
sini deh, aku punya sesuatu untuk kamu”. “wah, apa Pelangi?”. Pelangi
memberikan gelang kepada Rendi dan memasangnya dilengan kiri Rendi. “Ren ini
benda kesayangan aku, tulisannya “pelangi”. Satu hal yang harus kamu tahu bahwa
setelah hujan tiba maka pelangi akan terbit. Sama halnya dengan kehidupan kita.
Setelah derita maka akan terbit bahagia” tutur Pelangi dengan bijak. Rendi pun
tersenyum bahagia. Ia semakin yakin Pelangi adalah teman yang baik untuk
dirinya. Mereka pun bercerita tentang banyak hal di taman kota yang rindang.
Sembari beristirahat sebelum melanjutkan pekerjaan.
Pelangi
memperhatikan Rendi yang berpakaian kumuh seperti dirinya. Rasa tak pantas
dimata Pelangi melihat temannya seperti ini. “Ren, aku rasa kamu harus pulang
sekarang”, pinta Pelangi. “GAK MAU, aku gak mau balik ke rumah neraka itu lagi”.
“kamu jangan egois Ren”. “Udahlah Pelangi jangan suruh aku pulang, aku lebih
nyaman disini bersama kalian”, keluh Rendi. “Seandainya aku masih punya
orangtua, pasti aku tidak harus terlunta dijalanan seperti ini. Peristiwa
kebakaran 5 tahun lalu merenggut nyawa kedua orangtuaku”, Pelangi mulai
menitikan air mata. “Lalu setelah rangtuamu meninggal apa tidak ada keluargamu
yang lain?”, Tanya rendi. “Ada, pamanku. Tapi paman seakan tidak menghiraukan
diriku lagi. Aku hanya menyusahkan mereka. Begitulah kata paman.akhirnya aku
memutuskan hidup sebatang kara. Diusiaku yang masih belia aku sudah menjadi
sahabat jalanan ibukota, bertahan hidup seorang diri”, Pelangi menceritakan
semua kisahnya kepada Rendi. Rendi pun menitikan air mata menatap tajam mata
Pelangi seolah merasakan penderitaan yang dialami Pelangi. Perlahan Rendi
mengusap air mata Pelangi yang menetes di pipi. “Kamu harus kuat Pelangi, aku
tahu meskipun kamu perempuan tapi kamu jauh lebih kuat dari aku”. “pulanglah
Ren, selagi kau masih memiliki orangtua, hargai dan sayangilah mereka karena
hanya kamu harapan hidup mereka”. Mendengar ucapan pelangi, Rendi pun
memutuskan untuk pulang ke rumah dan berjanji akan berbakti kepada orangtuanya.
“Assalamualaikum”.
“waalaikum salam, den Rendi. Subhanallah akhirnya aden pulang juga”, Ucap mbok
ijah. “maafin Rendi mah, Rendi terbawa emosi jadi Rendi pergi dari rumah tanpa
memikirkan perasaan mama dan papa”, Rendi bersujud dibawah kaki ibunya. Papa
dan mama Rendi begitu bahagia menyambut kepulangan puteranya. Rendi pun
menceritakan tentang seseorang dibalik kepulangannya. Akhrnya orangtua Rendi
mengundang malaikat penolong itu untuk makan malam bersama.
“Ayo
masuk teman-teman”, pinta Rendi kepada teman-temannya. “wah besar sekali
rumahmu Ren”, Pelangi memuji kediaman Rendi. “Ah sudahlah, ayo kita bertemu
orangtuaku dimeja makan”. Sesampainya di meja makan. “Rendi”, mama berseru.
“sejak kapan kamu berteman dengan anak-anak kumuh seperti mereka”, bisik mama
Rendi. Rendi mencoba memberi pengertian kepada mama dan papa nya. Kelakuan
teman-teman Rendi yang jelas jauh dari etika sopan santun membuat orangtua
Rendi heran sekaligus memandang dengan sinis. “Kalian gak pernah makan makanan
seperti ini yah?”, mama Rendi bertanya dengan arogan. “yah maklum lah mah
mereka kan anak jalanan, atau bahkan tidak punya orangtua”, ucap papa Rendi.
Sejenak Pelangi terdiam bersama teman-temannya. Kalimat yang diucapkan orangtua
Rendi benar-benar menyayat hati gadis kecil ini. “Kami memang anak jalanan om
tapi bukan berarti kami harus diperlakukan serendah ini. Maaf Ren aku harus
pergi”. Pelangi pun berlari keluar dari rumah Rendi disusul oleh teman-temannya
yang lain, tak kuasa dengan penghinaan yang dilemparkan pada dirinya. “mah pah
liat ulah kalian, teman-tman Rendi pergi. Dan asal mama dan papa tau yah
Pelangi dan teman-temannya lah yang telah memberi tempat untuk rendi selama
satu minggu dan Pelangi anak yatim piatu yang menjadi alasan Rendi pulang ke
rumah. Tapi mama dan papa melukai hati mereka. Rendi benar-benar kecewa dengan
kalian”.
Belum
sempat Rendi meluapkan kekesalannya, namun papa Rendi justru menampar Rendi
hingga pingsan. Mereka khawatir Rendi akan kabur lagi dari Rumah. Rendi pun
dipindahkan sekolah keluar kota. Dengan harapan tidak lagi dapat menemui
teman-teman nya.
Hari
ini adalah hari keberangkatan Rendi. “mah izinkan Rendi bertemu teman-teman
Rendi untuk yang terakhir kalinya, Rendi mohon mah”. Mama Rendi pun memberikan
izin kepada anaknya untuk bertemu Pelangi dan temannya yang lain. Kesempatan
ini tak akan dilewatkan oleh Rendi begitu saja. Rendi menatap wajah
teman-temannya yang murung seakan tidak rela dengan kepergian dirinya. “tolong
ma’afin semua kesalahan aku yah, dan juga perkataan orangtuaku yang membuat
kalian sedih. Aku harus pergi. Terimakasih untuk pertemanan singkat ini. Aku
bahagia mengenal kalian”. Rendi tertunduk menitikan air mata. “kami juga senang
memiliki teman sepertimu Ren, jaga dirimu baik-baik. Kami pasti merindukan
dirimu”. Rendi memberikan sapu tangan kepada Pelangi sebagai kenang-kenangan.
“Aku tahu kamu kuat, tapi aku tidak yakin kalau kamu tidak menangis. Jadi
tolong gunakan sapu tangan ini untuk menghapus air matamu Pelangi. Karena aku
tidak mungkin menghapusnya dengan tanganku seperti saat kita bersama”.
Rendi
terlihat begitu sedih. Ketika melihat lamabaian tangan teman-temannya dari atas
mobil. Terlebih ketika melintasi lampu merah dan pinggiran jalan yang biasa
dijadikan tempat untuk menjajakan barang asongan bersama teman-temannya. Kini
Rendi merasa kehilangan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupnya.
Waktu
terus berlalu. Rendi kini menjadi pribadi yang gagah dan tampan. Dalam
kesendiriannya ia terus memperhatikan benda yang diamanatkan pada dirinya.
Nampaknya Rendi menyimpan rasa pada pemilik gelang itu. Ketulusan hati Pelangi
mampu menawan hati Rendi. Namun apa daya, Takdir tidak berpihak pada dirinya.
Rendi kecil kini telah dewasa bersama rasa yang dipelihara sekian lama pada
sosok gadis kecil dahulu yang mengajarkan arti hidup yang sesungguhnya. Hanya
mampu mengagumi insan mulia yang penuh asa dan kasih. Rendi kini dilanda seribu
tanya dalam hidupnya tapi dunia seakan tidak menjawab satupun dari
pertanyaannya. Hanya Pelangi yang terbit setelah hujan turun yang kini mampu ia
sapa.
_SELESAI_
Komentar
Posting Komentar