Cerpen Kisah Cinta Remaja
Akhir 999
Oleh Siska Irma Diana
“Mengapa tempat ini begitu asing
bagiku,” Diana mengedipkan mata sekali lagi, memastikan bahwa ia sedang berada
ditempat yang belum pernah ia singgahi.
Tiada tanda-tanda kehidupan disana,
hanya derap langkahnya yang terdengar beradu. Lima langkah kakinya berlalu. Dua
sosok manusia terbidik tepat dalam pandangannya. Sejenak ia terpaku keheranan,
bersama dengan kebingungannya Dian menghampiri mereka.
“Ma’af, bolehkah saya bertanya,”
Diana mengajukan pertanyaan dengan terbata.
Dua manusia itu sontak berbalik
badan merespon pertanyaan Diana . Seketika itu pula bom atom terasa memenuhi
hati Diana. Rasa ingin ia mati saat itu juga, terkapar lemah batin Diana melihat
kekasihnya bersanding mesra dengan wanita yang begitu sempurna.
“Ada apa ya mbak?”
“Andi!”
“Siapa yang mbak maksud, saya Rian
bukan Andi.” Timpal lelaki itu dengan yakin.
“Jangan mengelak lagi, kamu
benar-benar Andi. Tapi apa maksudmu dengan semua ini?”
“Dia Rian suami saya mbak, mungkin mbak salah
orang.” Ucap wanita cantik itu.
“TIDAK!!!! Kamu berbohong, tidak
mungkin ada orang yang kembar seidentik ini. Dia Andi kekasihku, dan dia BELUM
MENIKAH.” Diana membentak dengan segenap kemampuannya.
Keadaan
semakin diperparah setelah sebuah akta nikah diperlihatkan dihadapan Diana
bertuliskan nama mereka berdua. Nyaris tak bisa ia percaya, kini hatinya hancur
tak bersisa. Kekasihnya yang dinanti sekian lama tanpa kabar, kini datang
dengan membawa luka yang teramat mendalam. Diana masih dilanda tanya. Tentang
apa yang telah terjadi sebenarnya.
“Aku mohon Andi, jangan lakukan ini. Aku tidak sanggup
menerima kenyataan sepahit ini,” Diana mengemis bersimbah air mata dihadapan
Rian.
“Berhentilah memohon, Aku tidak
pernah mengenalmu bahkan namamu saja aku tidak tahu.”
Seketika itu pula Diana terjatuh
pingsan mendengar ucapan yang seakan menampar wajahnya.
Buukkkk....
“Awww, sakiitt!”
Mama pun muncul dibalik pintu kamar
“Ya ampun Diana, matahari sudah
tinggi masih saja tidur.”
“Sakit mah,” Diana merintih
kesakitan.
“Udah sana mandi, hari minggu bukan
berarti harus males-malesan.” Mama pun berlalu pergi.
“Huft ternyata cuma mimpi,
syukurlah,” tutur Diana sembari meneglus dada.
Dear Diary
Untuk ke-999 kalinya aku
terjatuh dari tempat tidurku karena
memimpikan dirinya. Sudah banyak ternyata.
Dan angka itu kutulis dalam daftar mimpiku tentangmu. Ya ANDI AJIB ASHARI
namanya. Namun kali ini benar-benar luar biasa.Apa maksud dari mimpi itu?. Entahlah
aku sendiri tak mengerti. Mungkin rinduku yang tidak bisa kubendung lagi. 9
Tahun lebih rasa ini bersemayam dihati. Menanti seorang yang tak kunjung
kembali. Entah dibelahan bumi mana kini dia berada. Ditelah duniakah, sampai
tiada berita yang kudengar tentangnya. Hanya berbekal janji yang kini kupegang
sepenuh hati. Dia akan kembali suatu masa untuk cintanya disini. Entah itu
pemanis dari kepalsuannya atau memang benar adanya. Yang ku tahu, kita tetap
dalam dunia yang sama, bernaung dibawah langit yang sama dan menghirup udara
yang sama. Lekaslah kembali kasih. Aku sudah terlalu lama menanti.
***
Dikampus
“Diana!!”
Suara yang menjadi langganan telinga
Diana dikampus kembali membayang dan menghentikan langkahnya. Meski Diana
seringkali mencela dan mengabaikan manusia itu, namun layaknya seorang pengawal
yang setia setiap saat ia selalu disisi Diana.
“Berhentilah mengikutiku, aku bosan
melihat wajahmu. Kau tahu!”
“Entah dengan apa harus ku jelaskan
semuanya, aku terlalu...” Pemuda itu terhenti sejenak dan mengambil nafas
panjang.
“Aku mencintaimu Diana.”
Diana tertahan sejenak lalu tertawa
begitu puasnya. “Hahaha, bualan macam apa ini Vin.” Diana merespon dengan
ekspresi sinis.
Ia pun berlalu mengabaikan Vino yang
tengah berlutut menggenggam mawar merah ditangannya. Tanpa memerdulikan
perasaan lelaki itu Diana terus berlalu dan menjauh sampai ia benar-benar tak
terlihat lagi oleh lelaki itu. Disisi lai, Vino hanya terdiam dan membuang
bunga itu layaknya sampah yang tak berguna. Tanpa sepatah kata ia pergi
meninggalkan bunga yang telah dibuangnya.
“Sampai kapan dia terus
menggangguku, kelakuannya hanya membuatku ingin pergi dari dunia ini,
menyebalkan.” Diana bergumam seorang diri dalam sepi.
***
Hari berganti minggu, sampai minggu
pun berganti bulan. Hari-hari Diana masih tetap sama tidak ada yang membuatnya
lebih baik. Begitu pun dengan hari ini.
“Ku harap semoga hari ini aku tidak
bertemu dengannya.” Pinta Diana penuh harap.
Dikelas...
Diana mengernyitkan dahi, ketika ia
melihat sebuah coklat berpita merah diatas mejanya. Seperti yang ia duga. Vino
lah dalang dibali ini semua. Ternyata valentine tidak memberi warna yang
berbeda dalam diri maupun hatinya.
“Aku harap kamu suka dengan ini
semua, Happy Valentine Day Diana”
“Tak perlu repot-repot menyiapkan
ini semua, aku tidak butuh!” Bersama kebencian yang mengendap dihatinya Diana
meninggalkan Vino yang masih membingkai senyum diwajahnya.
“Aku hanya ingin membahagiakan orang
yang aku cintai, apa aku salah?”
Diana terhenti dan berbalik arah
mendekati lelaki berkemeja hitam itu.
“SALAH!!1, Karena aku tidak
sedikitpun mencintaimu. Soal cintamu aku tak perduli karena bukan kau yang aku
nanti. jadi berhentilah menggangguku. Paham!!!”
Suara Diana mengundang semua mata
dalam ruangan itu tertuju pada mereka berdua. Ketidakberdayaan Vino atas
perlakuan Diana membuat semua orang empati pad lelaki berkacamata ini. Namun
Vino hanya diam saja. Bahkan tanpa ekspresi sedih ataupun bahagia. Dia hanya
mematung dan menjadi pendengar setia Diana.
Sulit. Diana semakin tertekan dengan
keadaan. Perlakuan Vino hanya melukis kebencian dihati gadis berdarah bugis
ini. Sempat membayang sosok kekasihnya, datang membawa mawar merah kesukaannya.
Tapi lagi-lagi itu hanya impian fiksinya.
15 Februari
Bertepatan dengan hari ini wisuda perdana
Diana. Menjadi Sarjana memanglah impian Diana sejak lama. Namun tak sama dengan
teman-temannya yang tertawa bahagia mengenakan toga dengan seragam kebanggaan
Sarjana. Diana masih bimbang dengan perasaannya. Bahagia atau kecewa. Dikatakan
hari bahagia namun sang kekasih justru tiada melengkapi harinya.
“Mama sama papa pulang duluan aja
yah, Diana biar naik Taxi .”
“Diana gak pulang bareng mama nak?”
“Enggak mah, Diana mau pergi kesuatu
tempat”
“Ya sudah, hati-hati yah. Cepet
pulang”
“Baik mah”
Mama pun berlalu setelah mencium
keduapuipi Diana.
Di Taman Bunga
Ditempat inilah Diana dan Andi biasa
mengahabiskan waktu bersama. Sepuluh tahun sudah Diana seorang diri ditempat
kenangan ini. Meski harus merlinang air mata dalam penantian. Tapi setidaknya
ini lebih baik baginya.
“Congratulation”
Sebuah tangan menjulur dari belakang
tubuhnya. Bahkan dihari Wisuda, Vino masih sempat mengusik Diana.
“Aku mohon untuk hari ini saja,
Biarkan aku tenang tanpamu Vino”
“Aku kemari bukan untuk megusikmu
Diana, tapi...”
“Tapi kehadiranmu itu yang mengusik
kedamaianku, aku mohon pergilah dari kehidupanku dan cari kebahagiaanmu
sendiri”
“Aku mohon Vino.” Diana memohon
sekali lagi.
Ia nampak tak berdaya dan terlalu
lelah dengan semua kisahnya. Setelah menatap mata Vino dalam-dalam ia pun
berbalik badan dan berniat untuk pergi.
Bukkkk...
Diana menabrak sesuatu. Dan kali ini dia bukan terjatuh dari tempat
tidurnya. Sosok yang ditabrak Diana langsung mendekap tubuhnya. Membuatnya
terheran seketika.
“Selamat, kamu telah berhasil
melewati masa terulitmu hari ini”
Suara yang lama tak ia dengar. Namun
ia belum paham siapa orang itu. Perlahan Diana melepas pelukannya. Dan menatap
sosok itu dengan pasti
“ANDIIIIIII!!!!!”
“Iya Diana, aku datang menepati
janjiku”
Tanpa sepatah kata pun. Diana
mendekap erat tubuh kekasihnya. Mata indahnya mulai beriak dan mengalirkan air
mata tanpa henti-hentinya.
“Aku tidak mimpi kan, ini kamu Andi.
Andiku?”
“Iya sayang, Kamu tidak sedang bermimpi.
Peluklah aku dengan semua rindumu”
10 tahun penantiannya. Bukanlah
waktu yang singkat untuk bertahan seorang diri tanpa komunikasi. Hanya cinta
yang ia percaya. Vino yang sedari tadi menyaksikan kisah cinta dua insan
dihadapannya hanya bisa terdiam dan larut dalam suasana haru yang mengundang
simpati dalam hatinya.
“Diana, Ini untumu,” seraya
memberikan mawar merah yang begitu indah.
“Terimakasih sayang, kamu masih
ingat dengan bunga kesukaanku”
“Aku selalu ingat, bahkan aku selalu
memberimu bunga setiap minggunya,” Andi mengelus rmbut Diana.
“Apa!!, bagaimana mungkin. Aku tidak
pernah menerima mawar darimu Andi”
Andi hanya tersenyum penuh cinta,
menatap kedua bola mata Diana yang masih beriak bahagia.
“Bagaimana mungkin kau menerimanya,
jika bunga itu selalu kau abaikan dan bahkan kau buang”
Diana semakin tak mengerti dengan
bahasa Andi. Entah apa yang dimaksud dengan kekasihnya yang jelas Diana tidak
merasa mendapat kiriman bungan atas nama Andi dikartu pengirimnya.
“Bunga itu ku titipkan pada Vino”
“APA!! Vino?” Ia terkejut dengan
pernyataan Andi yang sulit ia percaya.
Diana menatap Vino dengan penuh
tanya. Maksudmu apa Andi. Dia orang yang selalu mengusik ketenanganku selama
ini.
“Dengar baik-baik sayang, dia adalah
sahabatku. Vino Aditama. Yang aku tugaskan untuk menjagamu disini dan memastikan bahwa kau selalu menantiku”
“Jadi ini semua, rekayasa?”
“Ma’afkan aku Diana, Sebenarnya ini
ulah Andi. Aku tidak mencintaimu. Aku hanya diperintahkan untuk mengetahui
sejauh mana kesetiaanmu padanya.” Ucap Vino.
Diana menggelengkan kepala. Pertanda
ia tidak menyangka ini semua. Ternyata kekasih yang jauh dari matanya begitu
dekat dan selalu menjaga dirinya meski melalui tangan orang lain. Kini ia pun
menyadari bahwa Andi adalah lelaki yang layak ia nanti.
“Hentikan air matamu, kamu sudah
terlalu banyak menumpahkan air mata untukku” Andi mengusap air mata Diana
dengan begitu mesra.
“Aku tidak tahu harus dengan apa
mengungkapkan hal yang sedang aku rasa. Tapi yang pasti aku bahagaia, sungguh
aku bahagia sekali”
***
Komentar
Posting Komentar